Tentang Ikatan yang harus dijaga

 Akhir-akhir ini Allaah sering tampakkan dan ingatkan secara pribadi ayat-ayatNya tentang hari akhir dan hubungan antar manusia di dalamnya. 

Dikisahkan dalam ayat Nya di beberapa surat, 

Nanti (ketika Hari yang pasti terjadi itu terjadi), semua manusia lari dari sahabatnya, karib kerabatnya dan bahkan keluarganya. 

Teman terdekatnya di dunia memalingkan wajahnya, 

tidak bertanya keadaan temannya, bahkan menjadi musuh baginya. 

Semua sibuk memikirkan dirinya sendiri. 

Begitulah karena saking riweuh dan dahsyatnya peristiwa ini. 

Mulai dari peristiwa hancur dan luluh lantahnya dunia dan segala isinya, kebangkitan, perhitungan, sampai tiba akhirnya orang-orang shalih yang beruntung yang dapat beristirahat dengan sebenar-benarnya istirahat saat menapakkan kaki nya di Surga. 

Barulah mereka bertanya, "mana sahabatku Fulan? "

Dan dijawab "dia tengah disiksa di neraka". 


Dan atas rahmat dan karunia Allaah, Allaah izinkan orang shalih ini membawa keluarga, teman dan saudara mu'min nya di neraka untuk menuju surga, atas perjuangannya karena pernah bersama dalam keta'atan dan kebaikan, Allaah izinkan dan perintahkan orang-orang shalih ini membawa yang dia kenali di padanya ada kebaikan meskipun hanya sebesar biji dzarrah. 


Pentingnya berteman dengan orang shalih, yang mana kita berharap, dengannya hubungan kita dengan Allaah semakin dekat,  dengannya akhirnya kita mampu mendapatkan syafa'at,  sampai akhirnya Allaah ridha kita memasuki surga Nya bersama-sama atas dasar ta'at. 


Dan menjaganya bukanlah perkara yang mudah. 

Bahwa dalam hidup ini, kita tentu tidak akan pernah luput dari gesekan, luka, kecewa, perselisihan, kesalahpahaman, dan hal menyakitkan lainnya, entah itu dari orang yang terluar, terlebih lagi dari orang yang terdekat yang akan lebih menorehkan rasa yang begitu mendalam. 

Bahwa semua rasa itu adalah fitrah yang 'wajib' didapatkan, untuk menguji keimanan, melalui hubungan pertemanan. 


Lalu apakah kita harus menyerah begitu saja akan hubungan yang sudah begitu payahnya dijaga? Akan hubungan yang kita sama-sama pernah berucap bahwa hubungan ini adalah bukan sekedar hubungan pertemanan biasa, yang kita sama2 berharap bahwa Allaah lah tujuan, landasan, penghubung dan penjaga nya

Dengan alasan agar tidak ada lagi hati yang terluka? 


Kita memang bukan Rasulullaah Saw, yang mampu ringan memaafkan dan membebaskan kaum Quraisy di pembebasan Makkah setelah begitu banyak luka dan penghinaan

Kita juga bukan nabi Yusuf as, yang mampu berbelas kasih memaafkan saudara-saudara nya yang cemburu dan hendak membunuhnya dan meninggalkannya di tengah jalan

Kita juga bukan Umar ra, yang mampu tetap bersikap lembut kepada seorang pemuda yang menuduhnya tidak adil dengan kritikan tanpa kesopanan. 

Tapi kita mungkin mampu berusaha belajar teladan-teladannya, juga dari Abu Bakr ra, yang pernah tersakiti oleh kerabat dekatnya sendiri, karna turut menyebarkan fitnah ttg Aisyah ra

Yang ketika Abu Bakr berazzam tidak akan memaafkan dan memberikan bantuan lagi padanya karna rasa sakit hatinya, Allaah langsung menegurnya dalam 24:22.

Dengan penuh kesadaran dan keterbatasan pemahaman, diri ini sangat menyadari bahwa meminta maaf dan memaafkan ini bukanlah hal yang mudah, baik itu memafkan orang lain maupun memaafkan diri sendiri, karna begitu beratnya dan dalamnya hati yang terluka

Kecuali bagi orang-orang yang khusyu dan ikhlas mengharapkan ridho Nya. 

Bahwa semua ikatan itu tidak ada yang bermanfaat dunia dan akhirat, kecuali ia menjadikan Allaah sebagai landasannya.

Bahwa ketika kita berharap ikatan yang terjalin selama ini adalah berlandaskan Allaah, jika memang baik dan haq, maka kita berlindung dan berdo'a kepada Allaah bahwa Allaah sendiri yang akan menjaga agar simpulnya tidak putus, melainkan semakin terikat dengan kuat.

Dan bahwa hanya Allaah-lah yang akan memutuskan sampul ini saat ia sudah mulai tercampur oleh yang bukan haq nya mengikat. 

Dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati yang begitu keruhnya, mau kah kita tetap bersama-sama belajar bagaimana mencapai predikat orang-orang yang khusyu dan ikhlas dalam mencapai ridho Nya?

Melalui jalan hubungan perteman ini, yang bukan hanya senang dan senda gurau di dalamnya, melainkan kepahitan, luka dan kecewa.. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fa Ayna Tadzhabuun