Fa Ayna Tadzhabuun
فأين تذهبون
Para mufassir menafsirkan ayat tersebut dengan
Maka kemana kah kamu akan pergi (setelah kamu berpaling dari Al Quran)?
Maka kemana kah kamu akan pergi (dari jalan kebenaran yang tiada lagi kebenaran melainkan yang sudah disampaikan oleh Allaah dan Rasul Nya)?
Maka kemana kah kamu akan pergi (dan berharap mendapatkan jalan lain setelah ingkar mu dan keberpalingan mu dari Nya)?
Dilanjutkan dengan ayat-ayat setelahnya
"Bukanlah kehendak mu yang dapat membawamu ke jalan yang benar dan lurus, melainkan hanya kehendak Allaah lah melalui peringatan-peringatan Nya."
Allaaah
Wa law laa fadhlullaahi 'alaykum wa rahmah
Kalau bukan karena karunia dan rahmat dari Allaah, kita mungkin akan terus berada dalam kebingungan, kesesatan jalan, kesesakkan, keguncangan dan terbolak/i nya hati yang bertengger dalam dada, untuk dapat memahami sampai akhirnya dapat menjawab dengan sebenar2nya jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan.
Begitupun atas peringatan Nya dalam ayat
i'lamuu innamal hayaatuddunya la'ibun wa lahw...
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan..
kamatsali ghaitsin a'jabal kuffaara nabatuhu, tsumma yahiiju fataraahu mushfarran tsumma yakuunu huthaama...
Perumpamaannya seperti hujan yang tanaman2nya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur...
wa mal hayaatuddunya illaa mataa'ul ghuruur
Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.
"Namun, sedikit sekali yang mau mengambil pelajaran dari nya."
Allaah tidak ingatkan kita ayat ini melainkan agar kita tidak terlena dan tertipu pada kesenangan dunia yang fana, sementara, bahkan palsu.
Allaah tidak ingatkan kita ayat ini melainkan agar kita tidak menjadikan dunia sebagai sandaran, terlebih lagi tujuan kehidupan.
Allaah tidak ingatkan kita ayat ini melainkan agar kita selalu berpegang teguh pada jalan kebenaran, jalan lurus, yang Allaah dan akhiratnya adalah sebaik-baiknya dan sejatinya tempat kembali, sandaran, dan tujuan.
Lantas, bagaimana seharusnya kita "menyeimbangkan" kehidupan dunia dan akhiratnya?
Apakah dengan "menyamakan" porsi atau kadar kala kita mengingat dunia dan akhirat Nya?
Atau kah dengan "melebihkan" porsi akhiratnya dibandingkan dunia?
Atau kah dengan "keyakinan" bahwa setiap yang dilakukan adalah akhirat dan Allaahnya sebagai tujuan?
Ini lah sejatinya yang mungkin menjadi salah satu perenungan utama yang dihadapkan, apakah mampu melewati setiap perjalanan sesuai dgn petunjuk jalan kebenaran? Apakah mampu memilih jalan kebenaran dalam setiap persimpangan? Apakah mampu menjadikan Allaah dan akhiratnya sebagai tujuan akhir perjalanan?
Itulah juga mungkin harapan yang disampaikan dalam setiap do'a fii hifzhillaah fii amaanillaah dan ma'assalaamah.
Bahwa agar yang dido'akan dan mendo'akan, yang ditinggalkan dan meninggalkan, sama2 mengingati dan menjaga diri sendiri, bahwa setiap pertimbangan yang diputuskan, setiap kata yg dituturkan, setiap langkah yang dilakukan, dalam setiap perjalanannya, sejatinya akan dimintai pertanggung jawaban, oleh Dzat yang tiada lain yang Maha Menghakimi dengan seadil-adilnya penghakiman, Mengawasi dengan sebaik-baij nya pengawasan, Memberikan petunjuk dengan sebaik-baiknya petunjuk jalan kebenaran, serta Melindungi dengan sebaik-baiknya perlindungan dan penjagaan, karena tiada Dzat yang lain yang Memiliki dan Menguasai dzat yang kita titipkan.
Agar ia tidak terlena dalam kesenangan fana yang menggiurkan.
Wallaahu a'laam
Desember, 2023
Komentar
Posting Komentar